Sabtu, 13 November 2010
Lowongan CPNS jateng – Jawa Tengah Tahun 2010
Lowongan CPNS jateng – Jawa Tengah Tahun 2010
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah pada formasi tahun 2010 menyelenggarakan Pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD) secara on line sistem.
On line sistem dalam pendaftaran CPNSD dikandung maksud untuk memberikan kemudahan dan kecepatan akses informasi mengenai pengadaan CPNSD. Dengan pendaftaran on line sistem, calon peserta seleksi pengadaan CPNSD dapat mendaftarkan diri pada formasi yang dibutuhkan/lowong melalui internet baik dari rumah, warnet, kantor dan sebagainya, sehingga calon peserta seleksi pengadaan CPNSD mendapatkan kemudahan dalam melihat formasi yang dibutuhkan/lowong.
Dengan demikian, diharapkan proses pengadaan CPNSD tahun 2010 ini dapat berlangsung secara transparan dan akuntabel, netral, obyektif dan adil yang didukung dengan sistem informasi yang canggih dan menjamin akurasinya. Juga perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh oleh masyarakat luas, bahwa jangan percaya kepada pihak-pihak tertentu yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan sejumlah uang tertentu.
Selamat mengikuti seleksi CPNSD tahun 2010, semoga sukses.
PENGADAAN CPNSD FORMASI TAHUN 2010
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH DAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI JAWA TENGAH
Klik link berikut untuk mendownloadnya…. :D
1 Kabupaten Semarang 17 Kabupaten Wonosobo
2 Kabupaten Kendal 18 Kabupaten Purworejo
3 Kabupaten Grobogan 19 Kabupaten Kebumen
4 Kabupaten Pekalongan 20 Kabupaten Klaten
5 Kabupaten Batang 21 Kabupaten Boyolali
6 Kabupaten Tegal 22 Kabupaten Sragen
7 Kabupaten Brebes 23 Kabupaten Sukoharjo
8 Kabupaten Pati 24 Kabupaten Karanganyar
9 Kabupaten Kudus 25 Kabupaten Wonogiri
10 Kabupaten Jepara 26 Kota Semarang
11 Kabupaten Blora 27 Kota Salatiga
12 Kabupaten Banyumas 28 Kota Pekalongan
13 Kabupaten Cilacap 29 Kota Tegal
14 Kabupaten Banjarnegara 30 Kota Magelang
15 Kabupaten Magelang 31 Kota Surakarta
16 Kabupaten Temanggung 32 Provinsi Jawa Tengah
info klik : http://f1d3ly4.wordpress.com/2010/11/13/lowongan-cpns-jateng-jawa-tengah-tahun-2010/
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah pada formasi tahun 2010 menyelenggarakan Pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD) secara on line sistem.
On line sistem dalam pendaftaran CPNSD dikandung maksud untuk memberikan kemudahan dan kecepatan akses informasi mengenai pengadaan CPNSD. Dengan pendaftaran on line sistem, calon peserta seleksi pengadaan CPNSD dapat mendaftarkan diri pada formasi yang dibutuhkan/lowong melalui internet baik dari rumah, warnet, kantor dan sebagainya, sehingga calon peserta seleksi pengadaan CPNSD mendapatkan kemudahan dalam melihat formasi yang dibutuhkan/lowong.
Dengan demikian, diharapkan proses pengadaan CPNSD tahun 2010 ini dapat berlangsung secara transparan dan akuntabel, netral, obyektif dan adil yang didukung dengan sistem informasi yang canggih dan menjamin akurasinya. Juga perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh oleh masyarakat luas, bahwa jangan percaya kepada pihak-pihak tertentu yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan sejumlah uang tertentu.
Selamat mengikuti seleksi CPNSD tahun 2010, semoga sukses.
PENGADAAN CPNSD FORMASI TAHUN 2010
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH DAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DI JAWA TENGAH
Klik link berikut untuk mendownloadnya…. :D
1 Kabupaten Semarang 17 Kabupaten Wonosobo
2 Kabupaten Kendal 18 Kabupaten Purworejo
3 Kabupaten Grobogan 19 Kabupaten Kebumen
4 Kabupaten Pekalongan 20 Kabupaten Klaten
5 Kabupaten Batang 21 Kabupaten Boyolali
6 Kabupaten Tegal 22 Kabupaten Sragen
7 Kabupaten Brebes 23 Kabupaten Sukoharjo
8 Kabupaten Pati 24 Kabupaten Karanganyar
9 Kabupaten Kudus 25 Kabupaten Wonogiri
10 Kabupaten Jepara 26 Kota Semarang
11 Kabupaten Blora 27 Kota Salatiga
12 Kabupaten Banyumas 28 Kota Pekalongan
13 Kabupaten Cilacap 29 Kota Tegal
14 Kabupaten Banjarnegara 30 Kota Magelang
15 Kabupaten Magelang 31 Kota Surakarta
16 Kabupaten Temanggung 32 Provinsi Jawa Tengah
info klik : http://f1d3ly4.wordpress.com/2010/11/13/lowongan-cpns-jateng-jawa-tengah-tahun-2010/
Cara Menundukkan Pandangan

tunduk
Di Daerah saya ini masih banyak sekali wanita yang tidak menutup aurat (memakai tudung), lalu apakah saya sebagai lelaki berdosa jika setiap kali keluar dari rumah, secara sengaja atau tidak sengaja melihat aurat wanita, sedangkan tidak mungkin saya berjalan dengan terus-menerus menundukkan kepala saya, lalu bagaimana solusinya?
Jawapan:
Bukan hanya di daerah anda bahkan di mana saja kita dapat lihat para wanita pada umumnya tidak mengenakan pakaian yang menutup aurat. Sebaliknya, orang yang memakai tudung (pakaian yang menutup aurat) jumlahnya lebih sedikit dibanding yang tidak menutup aurat. Kalaupun menutup aurat, masih juga telanjang. Karena itu di manapun kita berada akan bertemu dengan pemandangan seperti ini.
Dalam kaca mata syari’ah memang masalah pandangan adalah masalah yang sangat penting. Rasulullah menyebutkan hadis qudsi yang menerangkan bahwa padangan itu seperti panah beracun
النظرة سهم مسموم من سهام إبليس من تركها من مخافتي أبدلته إيمانا يجد حلاوته في قلبه
Pandangan itu adalah panah beracun di antara panah iblis, siapa yang meninggalkannya karena takut kepadaKu maka akan Aku gantikan dengan keimanan, yang ia dapatkan manisnya di dalam hatinya (HR ath-Thabrani dan al-Hakim)
Tepat sekali Rasulullah membuat ibarat. Orang yang terkena panah beracun, kalaupun panahnya sudah dicabut, racun panah yang masuk ke dalam tubuh akan tetap bekerja. Demikian juga pandangan mata, kalaupun objek yang dilihat sudah tidak nampak di mata, namun pengaruh pandangan itu akan tetap mempengaruhi orang yang memandangnya. Di antara pengaruh pandangan itu adalah, malamnya terbayang-bayang, makan terasa tidak enak, dan muncul rasa ingin bertemu dan seterusnya.
Di dalam pepatah arab kuno dikatakan, ”Semua peristiwa, asalnya karena pandangan. Kebanyakan orang masuk neraka adalah karena dosa kecil. Permulaannya pandangan, kemudian senyum, lantas beri salam, kemudian berbicara, lalu berjanji, dan sesudah itu bertemu….
Menghadapi situasi yang seperti ini solusinya adalah menundukkan pandangan, sebagaimana firman Alah.
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.’ yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (An-Nuur:30).
Istilah menundukkan pandangan ini tidak sama dengan menundukkan kepala ke tanah. Menundukkan pandangan juga bukan berarti memejamkan mata. Menundukkan pandangan ialah menjaga dan mengendalikan pandangan, tidak dilepaskan begitu saja tanpa kendali.
Dengan pengertian demikian, dalam masalah menundukkan padangan ini, tidak ada kata tidak mampu melakukannya terus menerus. Ketika kita tidak mampu menundukkan pandangan terus menerus bererti kita tidak mampu mengendalikan pandangan kita. Bererti juga kita tidak sanggup menahan hawa nafsu kita
Untuk lebih memahami makna menundukkan pandangan ini mari kita semak pesan Nabi kepada Ali bin Abi Thalib;
يَا عَلِىُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ
”Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh”. (HR Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).
Hadis ini menunjukkan bahwa pandangan sekejap, atau penglihatan terhadap hal-hal yang haram sesaat yang pertama adalah pandangan yang diampuni. Kewajiban kita untuk tidak memfokuskan pandangan kepada hal yang diharamkan itu. Ketika pandangan mata kita tertumbuk pada suatu objek yang haram, kewajiban kita adalah menyingkirkan pandangan kita (menundukkan mata) ke objek yang lain. Jika kita tidak mahu mengalihkannya, maka pandangan tersebut dinilai sebagai bentuk zina mata sebagaimana sabda Rasulullah
الْعينانِ زِنَاهُما النَّظَرُ
”Dua mata itu mampu berzina, dan zinanya ialah melihat.” (HR Al-Bukhari)
Meskipun di dalam hadis di atas rasulullah menyatakan pandangan pertama itu adalah hakmu, perbanyaklah taubat dan istighfar, karena pandangan yang tidak sengaja itu.
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Sesungguhnya Taubat di sisi Allah hanyalah Taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang Kemudian mereka bertaubat dengan segera, Maka mereka Itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (An-Nisa’:17)
http://www.assalaam.or.id/
Rahsia Nikmatnya Hidup
sujud-syukur-1
Bila hidup ini tidak halangan, tentu tidak menarik. Terlebih dahulu di-cast dengan ilmu, lalu kita amalkan dalam kehidupan, seperti bertarung dalam kehidupan nyata ini. Tapi kita harus benar-benar dapat mengukur diri kita. Misalnya, ketika terjadi pertemuan dengan kalangan tertentu, yang membuat keimanan kita turun, bererti pertemuan itu tidak bagus untuk kita. Bererti iman kita belum cukup untuk dapat menangkis pengaruh negatif dari kelompok itu. Maka untuk sementara waktu kita perlu berhijrah dari lingkungan tersebut, dalam rangka menguatkan diri. Sehingga pada waktunya, kita sudah sedia untuk terjun ke dalam kehidupan sebenar, namun kita sudah berbekal dengan kemampuan yang lebih baik. Kita harus mendakwahi mereka, ketika kita sudah yakin dengan kekuatan diri kita. Di-cast dapat juga dengan cara berkumpul dengan orang-orang soleh. Diamnya saja akan berpengaruh terhadap keyakinan kita.
Yang paling membuat hidup kita tidak selesa adalah kebingungan, ragu-ragu, dan keraguan, kerana setiap yang meragukan membuat hidup kita tidak jelas. Dalam menjalani hidup ini, apabila belum mengenal peta hidup dengan jelas, maka menyebabkan hidup menjadi gamang, ragu, dan sangat meletihkan.
Dalam menjalani hiduup ini, harus jelas hala tujunya dan bagaimana dalam melangkahnya, siapa Tuhan kita, siapa kita, apa yang bahaya, dan apa yang menyelamatkan, akan ke mana kita, dan sebagainya. Kalau sudah semuanya jelas, maka akan mantap dan tidak akan bingung dalam menjalani hidup.
Manusia diciptakan dan diurus oleh Allah SWT. Tugas kita di dunia ini adalah menjadi hamba Allah. Mematuhi apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah. Perkara rezeki adalah mutlak dalam genggaman Allah. Kalau kita patuh kepada Allah dan yakin dengan kekuasaan Allah, Sang Pemberi rejeki pasti akan menjamin segala keperluan rezekinya.
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. QS At-Thalaq : 2-3
Kita bekerja bukan hanya untuk mencari wang, tapi merupakan amal soleh dalam menjemput rezeki atau nafkah kita. Yang dicari keberkahan dan redha Allah SWT. Orang yang mencari redha Allah tidak akan ragu kepada Allah SWT sebagai pemberi rezeki, pasti kita akan bertemu dengan rezeki kita, sehingga tidak akan mahu berbuat haram. Kalau seseorang tidak mencari redha Allah, maka ia akan menghalalkan berbagai cara.
Dengan demikian, berbeza antara orang yang bekerja hanya untuk mencari wang, dengan orang yang bekerja untuk mencari redha-Nya. Orang yang mencari redha Allah, sama sekali tiada keraguan, yakin pasti bertemu dengan rezekinya. Selama sesuai dengan perintah Allah, tidak perlu menghiba-hiba kepada manusia, kerana manusia tidak dapat memberikan apa pun, tanpa izin Pemilik Semesta Alam.
sujud-syukur-2
Kita bergaul dengan manusia, bukan untuk menuhankan, dan memelas kepada manusia. Kita bergaul dengan manusia kerana Allah menyuruh kita bergaul dengan manusia dengan baik. Kita berbuat baik bukan untuk dihargai. Orang menghargai, dan mengakui kebaikan kita atau tidak, bukan urusan kita. Urusan kita adalah bergaul dengan manusia dengan baik sesuai perintah-Nya. Tidak boeh takut kepada manusia. Diri kita milik Allah, tak akan jatuh sehelai rambut pun tanpa izin pemilik-Nya. Tidak akan pernah mati, kecuali Allah yang mematikan.
Manusia bukan pemberi rezeki, manusia hanya makhluk sebagai jalan dari ketentuan Allah. Tugas kita jelas, menjemput rezeki kita dengan cara yang halal. Semua anak-anak kita ada rezekinya. Tugas orang tua membawa anaknya mengenal siapa penciptanya, Lukmanul Hakim menjadi contoh bagaimana seorang hamba Allah, yang tidak bertuhankan selain Allah. Beliau mendidik anak untuk mengenal-Nya, dengan itu akan berjumpa dengan rezekinya yang berkah. Dan akan berjumpa dengan rezeki dan takdir terbaik dalam kehidupannya. Setelah kita mati, warisan terbesar kita kepada anak-anak kita adalah keyakinan dan istiqamah taat kepada Allah.
Dunia ini hanya tempat persinggahan. Semua kita akan tinggalkan. Dunia tidak ada apa-apa. Dunia bukan untuk memperbudak kita, tapi dunia diciptakan untuk menjadi pelayan kita. Harta, pangkat, gelaran, tidak ada apa-apa erti. Orang-orang zalim dan ingkar diberi oleh Allah dunia ini. Kemuliaan bukan dengan pencapaian duniawi, tanda kemuliaan bukan dengan berharta atau berpangkat, melainkan dengan takwa.
Takwa itu tandanya hatinya yakin, patuh kepada Allah, lahir batin. Redha dengan semua takdir yang telah ditetapkan Allah. Allah tidak pernah zalim dalam menentukan takdir kita. Jelas hidup ini hanya singgah sebentar di dunia dan dunia tidak dibawa ke alam kubur.
Siti hajar ketika ditinggalkan Nabi Ibrahim yang merupakan perintah Allah, ia lantas mengikutinya. Lalu tatkala memerlukan air untuk diri dan anaknya, beliau pun berlari-lari mencari air ke bukit shafa dan marwah. Namun air tidak muncul di bukit tersebut melainkan di sekitar ka’bah yang berjarak seratus meteran dari sana.
Maka tugas kita dalam hal ini adalah untuk menyempurnakan ikhtiar, bukan menentukan hasil. Jangan pernah risau dengan janji Allah. Sesungguhnya yang berbahaya bagi diri kita adalah keburukan dari diri kita sendiri. Orang lain hanya menjadi jalan.
sayangi-iman-anda
Sekarang masalah apa pun yang menimpa, jangan sibuk dengan orang yang menjadi jalan, melainkan sibuk dengan diri kita yang menjadi penyebabnya. Kebaikan kembali pada pembuatnya, begitu pula keburukan. Tidak ada yang merosak diri kita selain dari keburukan diri kita.
Ketika kita menghadapi kesusahan, kita tidak dapat menyelesaikan dengan kemampuan kita, melainkan dengan pertolongan Allah. Bagaimana jalan keluarnya? Adalah dengan bertaubat.
Barangsiapa yang memperbanyak istighfar, Allah akan menenangkan hatinya, Allah akan memberi jalan keluar, dan rezeki pertolongan dari yang tidak terduga.
‘maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (QS Nuh : 10-12)
Rezeki termahal dalam hidup ini adalah hati yang yakin, dan lahiriahnya patuh kepada Allah dengan istiqamah. Kejayaan orang adalah yakin kepada Allah, tidak ada keraguan dalam hatinya. Tidak bersedih hati. Kunci yakin adalah hati yang bersih. Makin bersih dari kemusyrikan, kemunafikan, dan cinta duniawi, hati akan langsung merasakan keyakinan, hati peka, doa mustajab, akhlak mulia, dan auranya tenang. Maka jangan ukur kejayaan seseorang dengan duniawinya, melainkan lihatlah sejauh mana keyakinannya yang merupakan kurnia Allah tidak ada tolok bandingannya.
Sekuat tenaga mengarungi hidup, disusuli dengan semangat kebersihan hati. Cari sahabat yang dapat membantu membersihkan hati. Seperti kereta yang tidak berfungsi whipernya/ pembersih kaca ketika hujan lebat, maka dia akan risau. Bukan tiada jalan, melainkan tidak dapat melihat jalan. Seperti itu pula ketika kita melihat dengan mata hati yang tertutup dosa. Oleh kerana itu, kembalilah kepada Allah, seperti kaca yang bersih, maka akan tampak semua yang ada, kerana tidak tertutup, seperti udara bagi paru-paru ini, penyelesaian sesungguhnya terhampar dekat kita.
di kutip dari :http://www.halaqah-online.com/v3/index.php?option=com_content&view=article&id=1116:rahsia-nikmatnya-hidup&catid=36:tazkiyatun-nafs&Itemid=84
Bila hidup ini tidak halangan, tentu tidak menarik. Terlebih dahulu di-cast dengan ilmu, lalu kita amalkan dalam kehidupan, seperti bertarung dalam kehidupan nyata ini. Tapi kita harus benar-benar dapat mengukur diri kita. Misalnya, ketika terjadi pertemuan dengan kalangan tertentu, yang membuat keimanan kita turun, bererti pertemuan itu tidak bagus untuk kita. Bererti iman kita belum cukup untuk dapat menangkis pengaruh negatif dari kelompok itu. Maka untuk sementara waktu kita perlu berhijrah dari lingkungan tersebut, dalam rangka menguatkan diri. Sehingga pada waktunya, kita sudah sedia untuk terjun ke dalam kehidupan sebenar, namun kita sudah berbekal dengan kemampuan yang lebih baik. Kita harus mendakwahi mereka, ketika kita sudah yakin dengan kekuatan diri kita. Di-cast dapat juga dengan cara berkumpul dengan orang-orang soleh. Diamnya saja akan berpengaruh terhadap keyakinan kita.
Yang paling membuat hidup kita tidak selesa adalah kebingungan, ragu-ragu, dan keraguan, kerana setiap yang meragukan membuat hidup kita tidak jelas. Dalam menjalani hidup ini, apabila belum mengenal peta hidup dengan jelas, maka menyebabkan hidup menjadi gamang, ragu, dan sangat meletihkan.
Dalam menjalani hiduup ini, harus jelas hala tujunya dan bagaimana dalam melangkahnya, siapa Tuhan kita, siapa kita, apa yang bahaya, dan apa yang menyelamatkan, akan ke mana kita, dan sebagainya. Kalau sudah semuanya jelas, maka akan mantap dan tidak akan bingung dalam menjalani hidup.
Manusia diciptakan dan diurus oleh Allah SWT. Tugas kita di dunia ini adalah menjadi hamba Allah. Mematuhi apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah. Perkara rezeki adalah mutlak dalam genggaman Allah. Kalau kita patuh kepada Allah dan yakin dengan kekuasaan Allah, Sang Pemberi rejeki pasti akan menjamin segala keperluan rezekinya.
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. QS At-Thalaq : 2-3
Kita bekerja bukan hanya untuk mencari wang, tapi merupakan amal soleh dalam menjemput rezeki atau nafkah kita. Yang dicari keberkahan dan redha Allah SWT. Orang yang mencari redha Allah tidak akan ragu kepada Allah SWT sebagai pemberi rezeki, pasti kita akan bertemu dengan rezeki kita, sehingga tidak akan mahu berbuat haram. Kalau seseorang tidak mencari redha Allah, maka ia akan menghalalkan berbagai cara.
Dengan demikian, berbeza antara orang yang bekerja hanya untuk mencari wang, dengan orang yang bekerja untuk mencari redha-Nya. Orang yang mencari redha Allah, sama sekali tiada keraguan, yakin pasti bertemu dengan rezekinya. Selama sesuai dengan perintah Allah, tidak perlu menghiba-hiba kepada manusia, kerana manusia tidak dapat memberikan apa pun, tanpa izin Pemilik Semesta Alam.
sujud-syukur-2
Kita bergaul dengan manusia, bukan untuk menuhankan, dan memelas kepada manusia. Kita bergaul dengan manusia kerana Allah menyuruh kita bergaul dengan manusia dengan baik. Kita berbuat baik bukan untuk dihargai. Orang menghargai, dan mengakui kebaikan kita atau tidak, bukan urusan kita. Urusan kita adalah bergaul dengan manusia dengan baik sesuai perintah-Nya. Tidak boeh takut kepada manusia. Diri kita milik Allah, tak akan jatuh sehelai rambut pun tanpa izin pemilik-Nya. Tidak akan pernah mati, kecuali Allah yang mematikan.
Manusia bukan pemberi rezeki, manusia hanya makhluk sebagai jalan dari ketentuan Allah. Tugas kita jelas, menjemput rezeki kita dengan cara yang halal. Semua anak-anak kita ada rezekinya. Tugas orang tua membawa anaknya mengenal siapa penciptanya, Lukmanul Hakim menjadi contoh bagaimana seorang hamba Allah, yang tidak bertuhankan selain Allah. Beliau mendidik anak untuk mengenal-Nya, dengan itu akan berjumpa dengan rezekinya yang berkah. Dan akan berjumpa dengan rezeki dan takdir terbaik dalam kehidupannya. Setelah kita mati, warisan terbesar kita kepada anak-anak kita adalah keyakinan dan istiqamah taat kepada Allah.
Dunia ini hanya tempat persinggahan. Semua kita akan tinggalkan. Dunia tidak ada apa-apa. Dunia bukan untuk memperbudak kita, tapi dunia diciptakan untuk menjadi pelayan kita. Harta, pangkat, gelaran, tidak ada apa-apa erti. Orang-orang zalim dan ingkar diberi oleh Allah dunia ini. Kemuliaan bukan dengan pencapaian duniawi, tanda kemuliaan bukan dengan berharta atau berpangkat, melainkan dengan takwa.
Takwa itu tandanya hatinya yakin, patuh kepada Allah, lahir batin. Redha dengan semua takdir yang telah ditetapkan Allah. Allah tidak pernah zalim dalam menentukan takdir kita. Jelas hidup ini hanya singgah sebentar di dunia dan dunia tidak dibawa ke alam kubur.
Siti hajar ketika ditinggalkan Nabi Ibrahim yang merupakan perintah Allah, ia lantas mengikutinya. Lalu tatkala memerlukan air untuk diri dan anaknya, beliau pun berlari-lari mencari air ke bukit shafa dan marwah. Namun air tidak muncul di bukit tersebut melainkan di sekitar ka’bah yang berjarak seratus meteran dari sana.
Maka tugas kita dalam hal ini adalah untuk menyempurnakan ikhtiar, bukan menentukan hasil. Jangan pernah risau dengan janji Allah. Sesungguhnya yang berbahaya bagi diri kita adalah keburukan dari diri kita sendiri. Orang lain hanya menjadi jalan.
sayangi-iman-anda
Sekarang masalah apa pun yang menimpa, jangan sibuk dengan orang yang menjadi jalan, melainkan sibuk dengan diri kita yang menjadi penyebabnya. Kebaikan kembali pada pembuatnya, begitu pula keburukan. Tidak ada yang merosak diri kita selain dari keburukan diri kita.
Ketika kita menghadapi kesusahan, kita tidak dapat menyelesaikan dengan kemampuan kita, melainkan dengan pertolongan Allah. Bagaimana jalan keluarnya? Adalah dengan bertaubat.
Barangsiapa yang memperbanyak istighfar, Allah akan menenangkan hatinya, Allah akan memberi jalan keluar, dan rezeki pertolongan dari yang tidak terduga.
‘maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (QS Nuh : 10-12)
Rezeki termahal dalam hidup ini adalah hati yang yakin, dan lahiriahnya patuh kepada Allah dengan istiqamah. Kejayaan orang adalah yakin kepada Allah, tidak ada keraguan dalam hatinya. Tidak bersedih hati. Kunci yakin adalah hati yang bersih. Makin bersih dari kemusyrikan, kemunafikan, dan cinta duniawi, hati akan langsung merasakan keyakinan, hati peka, doa mustajab, akhlak mulia, dan auranya tenang. Maka jangan ukur kejayaan seseorang dengan duniawinya, melainkan lihatlah sejauh mana keyakinannya yang merupakan kurnia Allah tidak ada tolok bandingannya.
Sekuat tenaga mengarungi hidup, disusuli dengan semangat kebersihan hati. Cari sahabat yang dapat membantu membersihkan hati. Seperti kereta yang tidak berfungsi whipernya/ pembersih kaca ketika hujan lebat, maka dia akan risau. Bukan tiada jalan, melainkan tidak dapat melihat jalan. Seperti itu pula ketika kita melihat dengan mata hati yang tertutup dosa. Oleh kerana itu, kembalilah kepada Allah, seperti kaca yang bersih, maka akan tampak semua yang ada, kerana tidak tertutup, seperti udara bagi paru-paru ini, penyelesaian sesungguhnya terhampar dekat kita.
di kutip dari :http://www.halaqah-online.com/v3/index.php?option=com_content&view=article&id=1116:rahsia-nikmatnya-hidup&catid=36:tazkiyatun-nafs&Itemid=84
Ikhwan GANTENG, Partner Sejati Akhwat?
Alangkah indahnya Islam. Kedudukan manusia dinilai dari ketaqwaannya, bukan dari gendernya. Ini adalah strata terbuka sehingga siapa saja berpeluang untuk memasuki strata taqwa.
Ikhwan dan akhwat adalah dua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbeda. Ikhwan, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan rasionalitasnya karena ia adalah pemimpin bagi kaum hawa. Akhwat, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan sensitivitas perasaannya karena ia akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9: 71)
Di lapangan, ikhwan dan akhwat harus menjaga hijab satu sama lain, namun tentu bukan berarti harus memutuskan hubungan, karena dalam da’wah, ikhwan dan akhwat adalah seperti satu bangunan yang kokoh, yang sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.
Belakangan ini menjadi sebuah fenomena baru di berbagai LDK kampus tentang sedikit ‘konfrontasi’ ikhwan dengan akhwat. Tepatnya, tentang kurang cepat tanggapnya da’wah para ikhwan yang notabene adalah partner da’wah dari akhwat.
Patut menjadi catatan, mengapa ADK akhwat selalu lebih banyak dari ADK ikhwan. Walau belum ada penelitian, tetapi bila melihat data kader, pun data massa dimana jumlah akhwat selalu dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan ikhwan, maka dapat diindikasikan bahwa ghirah, militansi dan keagresifan berda’wah akhwat, lebih unggul. Meski memang hidayah itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tentu kita tak dapat mengabaikan proses ikhtiar.
Akhwat Militan, Perkasa dan Mandiri? Sejak kapankah adanya istilah Akhwat militan, perkasa dan mandiri ini? Berdasarkan dialog-dialog yang penulis telaah di lapangan, dan di beberapa LDK, ternyata hampir semua akhwat memiliki permasalahan yang sama, yaitu tentang kurang cepat tanggapnya ikhwan dalam menghadapi tribulasi da’wah. Bahkan ada sebuah rohis yang memang secara turun temurun, kader-kader akhwatnya terbiasa mandiri dan militan. Mengapa? Karena sebagian besar ikhwan dianggap kurang bisa diandalkan. Dan ada pula sebuah masjid kampus di Indonesia yang hampir semua agenda da’wahnya digerakkan oleh para akhwat. Entah hilang kemanakah para ikhwan.
Akibat seringnya menghadapi ikhwan semacam ini, yang mungkin karena sangat gemasnya, penulis pernah mendengar doa seorang akhwat, “Ya Allah…, semoga nanti kalau punya suami, jangan yang seperti itu… (tidak cepat tanggap–red),” ujarnya sedih. Nah!
Ikhwan GANTENG
Lantas bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da’wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan ADK, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.
(G) Gesit dalam da’wah
Da’wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda’wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.
(A) Atensi pada jundi
Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? “Duh.., ikhwan ngga’ liat-liat ke belakang apa ya?” Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.
(N) No reason, demi menolong
Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki oleh aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. “Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…,” jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.
(T) Tanggap dengan masalah
Permasalahan da’wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini, menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan.
Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, “Mmmm….” “Lho… terus gimana? Kok cuma “mmmmm”…” tanya para akhwat bingung. Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan. “Aduh… gimana sih….” Para akhwat menjadi senewen.
(E) Empati
Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi.
Contoh kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, “Nanti juga balik lagi akhwatnya.”
(N) Nahkoda yang handal
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah “gatal” ingin segera gerak cepat beraksi dalam da’wah, para akhwat berinisiatif untuk “menggedor” ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat rutin koordinasi.
(G) Gentle
Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apatah lagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. “Ada apa nih?” tanya para akhwat. Saat para akhwat menyadari adanya asap, barulah mereka ikut berhamburan keluar. “Kok ikhwan ninggalin gitu aja…” ujar seorang akhwat dengan kecewa.
Penutup
Fenomena ketidak-GANTENG-an ikhwan ini, akan dapat berpengaruh pada kinerja da’wah. Ikhwan dan akhwat adalah partner da’wah yang senantiasa harus saling berkoordinasi. Masing-masing ikhwan dan akhwat memang mempunyai kesibukannya sendiri, namun ikhwan dilebihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sebagai pemimpin. Sehingga wajar saja bila yang dipimpin terkadang mengandalkan dan mengharapkan sang qawwam ini bisa jauh lebih gesit dalam berda’wah (G), perhatian kepada jundinya (A), tidak banyak alasan dalam menolong (N), tanggap dalam masalah (T), empati pada jundi (E), menjadi nahkoda yang handal (N) dan mampu memberikan perlindungan (G). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kaum laki-laki adalah pemimpin (qawwam) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)..." (QS. An-Nisa':34).
Kita harapkan, semoga semakin banyak lagi ikhwan-ikhwan GANTENG yang menjadi qiyadah sekaligus partner akhwat. Senantiasa berkoordinasi. Ukhuwah di dunia, dan di akhirat. Amiin. []
PS : Ayo kita budidayakan (memangnya ternak???) ikhwan GANTENG ini. Dan pada pembahasan selanjutnya, dapat dikupas tentang akhwat CANTIK. Nah, untuk ini, biarkan ikhwan yang menulis ^ _ ^
------
hudzaifah.org
Ikhwan dan akhwat adalah dua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbeda. Ikhwan, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan rasionalitasnya karena ia adalah pemimpin bagi kaum hawa. Akhwat, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan sensitivitas perasaannya karena ia akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9: 71)
Di lapangan, ikhwan dan akhwat harus menjaga hijab satu sama lain, namun tentu bukan berarti harus memutuskan hubungan, karena dalam da’wah, ikhwan dan akhwat adalah seperti satu bangunan yang kokoh, yang sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.
Belakangan ini menjadi sebuah fenomena baru di berbagai LDK kampus tentang sedikit ‘konfrontasi’ ikhwan dengan akhwat. Tepatnya, tentang kurang cepat tanggapnya da’wah para ikhwan yang notabene adalah partner da’wah dari akhwat.
Patut menjadi catatan, mengapa ADK akhwat selalu lebih banyak dari ADK ikhwan. Walau belum ada penelitian, tetapi bila melihat data kader, pun data massa dimana jumlah akhwat selalu dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan ikhwan, maka dapat diindikasikan bahwa ghirah, militansi dan keagresifan berda’wah akhwat, lebih unggul. Meski memang hidayah itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tentu kita tak dapat mengabaikan proses ikhtiar.
Akhwat Militan, Perkasa dan Mandiri? Sejak kapankah adanya istilah Akhwat militan, perkasa dan mandiri ini? Berdasarkan dialog-dialog yang penulis telaah di lapangan, dan di beberapa LDK, ternyata hampir semua akhwat memiliki permasalahan yang sama, yaitu tentang kurang cepat tanggapnya ikhwan dalam menghadapi tribulasi da’wah. Bahkan ada sebuah rohis yang memang secara turun temurun, kader-kader akhwatnya terbiasa mandiri dan militan. Mengapa? Karena sebagian besar ikhwan dianggap kurang bisa diandalkan. Dan ada pula sebuah masjid kampus di Indonesia yang hampir semua agenda da’wahnya digerakkan oleh para akhwat. Entah hilang kemanakah para ikhwan.
Akibat seringnya menghadapi ikhwan semacam ini, yang mungkin karena sangat gemasnya, penulis pernah mendengar doa seorang akhwat, “Ya Allah…, semoga nanti kalau punya suami, jangan yang seperti itu… (tidak cepat tanggap–red),” ujarnya sedih. Nah!
Ikhwan GANTENG
Lantas bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da’wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan ADK, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.
(G) Gesit dalam da’wah
Da’wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda’wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.
(A) Atensi pada jundi
Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? “Duh.., ikhwan ngga’ liat-liat ke belakang apa ya?” Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.
(N) No reason, demi menolong
Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki oleh aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. “Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…,” jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.
(T) Tanggap dengan masalah
Permasalahan da’wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini, menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan.
Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, “Mmmm….” “Lho… terus gimana? Kok cuma “mmmmm”…” tanya para akhwat bingung. Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan. “Aduh… gimana sih….” Para akhwat menjadi senewen.
(E) Empati
Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi.
Contoh kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, “Nanti juga balik lagi akhwatnya.”
(N) Nahkoda yang handal
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah “gatal” ingin segera gerak cepat beraksi dalam da’wah, para akhwat berinisiatif untuk “menggedor” ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat rutin koordinasi.
(G) Gentle
Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apatah lagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. “Ada apa nih?” tanya para akhwat. Saat para akhwat menyadari adanya asap, barulah mereka ikut berhamburan keluar. “Kok ikhwan ninggalin gitu aja…” ujar seorang akhwat dengan kecewa.
Penutup
Fenomena ketidak-GANTENG-an ikhwan ini, akan dapat berpengaruh pada kinerja da’wah. Ikhwan dan akhwat adalah partner da’wah yang senantiasa harus saling berkoordinasi. Masing-masing ikhwan dan akhwat memang mempunyai kesibukannya sendiri, namun ikhwan dilebihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sebagai pemimpin. Sehingga wajar saja bila yang dipimpin terkadang mengandalkan dan mengharapkan sang qawwam ini bisa jauh lebih gesit dalam berda’wah (G), perhatian kepada jundinya (A), tidak banyak alasan dalam menolong (N), tanggap dalam masalah (T), empati pada jundi (E), menjadi nahkoda yang handal (N) dan mampu memberikan perlindungan (G). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kaum laki-laki adalah pemimpin (qawwam) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)..." (QS. An-Nisa':34).
Kita harapkan, semoga semakin banyak lagi ikhwan-ikhwan GANTENG yang menjadi qiyadah sekaligus partner akhwat. Senantiasa berkoordinasi. Ukhuwah di dunia, dan di akhirat. Amiin. []
PS : Ayo kita budidayakan (memangnya ternak???) ikhwan GANTENG ini. Dan pada pembahasan selanjutnya, dapat dikupas tentang akhwat CANTIK. Nah, untuk ini, biarkan ikhwan yang menulis ^ _ ^
------
hudzaifah.org
Islam adalah Agama Kerja
Oleh : jamil
“.. Dan bekerjalah, Wahai Keluarga Daud, sebagai (ungkapan) syukur (kepada
Allah) (QS 34;14)
Banyak orang memberikan gambaran orang Islam yang baik dan taat, adalah
semata-mata dari berapa banyak dia melakukan shalat sunat, doa-doa,
dzikir-dzikir, dan lain-lain. Sangat jarang orang mengaitkan ketaatan beragama
misalnya dengan bagaimana dia giat bekerja, tegar berusaha, rajin di laboratorium atau berperilaku hemat. Bahkan kadang orang yang "terlalu" giat bekerja dicap sebagai orang yang jauh dari agama.
Tentu benar, ketaatan beribadah (dalam arti ritual) menjadi syarat mutlak ketaatan seseorang, namun sesungguhnya kalau kita kaji lebih dalam Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kerja, amal saleh (yang artinya perbuatan baik), atau action. Kerja adalah bagian penting dari ibadah. Islam adalah agama kerja.
Berikut, akan disampaikan sepintas ilustrasi bagaimana Islam sesungguhnya
meninggikan nilai kerja, amal nyata, atau action yang berguna bagi lingkungan
dan bagi sesama.
Kerja adalah Pesan Moral dan Tindak Lanjut dari Ibadah Ritual
Kalau kita perhatikan ibadah (ritual) dalam Islam memiliki bentuk yang sangat
khas dibanding dengan agama lain. Apa itu? Jika ibadah dalam agama lain
dilakukan dengan kondisi relatif diam, tenang, dan pasif, maka ibadah dalam
Islam sangat dinamis, dan penuh dengan gerakan-gerakan. Contoh sangat nyata adalah shalat. Shalat adalah ibadah yang sangat sentral dan teragung dalam Islam, bahkan menjadi batas keimanan seseorang atau tidak. Kalau kita amati, shalat dari awal sampai dengan akhir, disertai dengan gerakan seluruh tubuh kita. Apalagi haji, sebagai ibadah paripurna seorang muslim. Haji adalan ibadah total action, sangat penuh dengan gerakan fisik. Kalau shalat meski penuh gerakan namun di tempat saja, maka haji gerakannya melintasi tempat yang jauh. Begitu juga puasa, zakat, semuanya action.
Ibadah adalah penghambaan kepada Allah semata, namun semua ibadah kita harus memiliki implikasi kerja, implikasi sosial. Bahkan tata urutan ibadah selalu terkait dengan kerja. Shalat, misalnya, didasari dengan wudlu (penyucian diri), diawali dengan takbir (pengagungan kepada Allah), dan diakhiri dengan salam ke kanan dan kekiri. Salam adalah menyebarkan kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan. Pesannya sangat jelas! Kegiatan ibadah shalat berupa ibadah penyucian diri, dan mengagungkan Allah, harus dibuktikan dengan menyebarkan kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan kepada lingkungan. Dan itu –tidak bisa tidak- dilakukan dengan kerja, action.
Secara jelas Al-Quran menyebut pesan moral atau tujuan dari shalat berkaitan
dengan kerja. “…dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar” (QS Al-Ankabut: 45)
Begitu juga ibadah shaum (puasa) yang merupakan ibadah pengendalian nafsu dan penyucian diri, diakhiri dengan zakat fitrah, yaitu berbagi kepada sesama. Tidak berbeda dengan shalat, puasa juga harus mampu melahirkan semangat kerja. Haji diawali dengan wukuf (berdiam diri), dilanjutkan dengan tawaf, melempar jumrah, dan saí. Semuanya action.
Semua kegiatan ibadah memiliki benang merah yang sama. Kegiatan ibadah adalah merupakan penyucian jiwa, pengisian dengan sifat-sifat suci Allah, pengagungan dan berkomunikasi dengan Allah, yang harus diwujudkan dalam amal shaleh – kerja- kepada sesama.
Dinamisnya ibadah dalam Islam juga terlihat pada arsitektur masjid. Berbeda
dengan tempat ibadah agama lain yang dirancang tertutup, sepi, kadang kalau
perlu gelap, jauh dari keramaian. Masjid selalu bercirikan terang, terbuka,
banyak jendela, dan berada di dalam pusat aktivitas manusia. Bahkan dalam
sejarah Nabi, pengaturan umat selalu dilakukan di dalam masjid.
Ketinggian Kerja dalam Al-Quran dan Sunah Nabi.
Al-Quran dalam banyak sekali ayat, menyebutkan bahwa iman saja tidak cukup, tetapi harus disertai dengan amal shaleh, kerja, action. Tidak cukup iman saja tetapi harus dimanifestasikan dengan amal. Cukuplah, dinukilkan surat Al-Ashr untuk mewakili ayat-ayat tentang iman dan amal shaleh.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Dari ciri-ciri orang yang tidak rugi, selain keimanan semuanya berkaitan dengan kerja; amal shaleh, menasehati, menaati kebenaran, menetapi kesabaran.
Al-Quran juga memerintahkan agar kita selalu mencari karunia Allah di bumi
dengan bekerja sebagai ungkapan rasa syukur, bahkan setelah shalat pun kita
dianjurkan untuk segera bertebaran di muka bumi untuk bekerja. Sebagaimana
disebut dalam ayat-ayat berikut:
“.. Dan bekerjalah, Wahai Keluarga Daud, sebagai (ungkapan) syukur (kepada
Allah) (QS 34;14)
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala
penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.” (QS 67: 15)
"Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan
carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."( QS 62: 10)
Dalam hadis juga banyak diungkapkan tentang orang-orang yang utama, kebanyakan berkaitan dengan kerja, tindakan, action. Berikut di antaranya hadis-hadis yang terkenal:
“Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik perangainya/ akhlaqnya”
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
“Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya."
“Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”
“Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik (berperilaku) kepada keluarganya”
“Tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah”
“Sebaik-baik kamu ialah orang yang mempertahankan keluarganya selagi perbuatan itu tidak membawa kepada dosa”
“Barangsiapa yang menjadi susah pada petang hari kerana kerjanya, maka
terampunlah dosanya.” (Hadis riwayat Tabrani)
Bekerja bukan hanya dianjurkan untuk memberi manfaat kepada manusia, tetapi juga sangat dipuji jika bermanfaat bagi makhluk yang lain.
Rasulullah S.A.W. bersabda, "Seorang muslim yang menanam atau menabur benih, lalu ada sebahagian yang dimakan oleh burung atau manusia, atapun oleh binatang, nescaya semua itu akan menjadi sedekah baginya" (Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad).
Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, baik dalam Al-Quran selalu
menyebut dengan amal, kerja, kegiatan, atau action. Misalnya ciri-ciri orang
beriman dalam surat Al-Mukminun 1-11, yang menyebutkan ciri orang beriman
sebagai orang yang khusyu shalat, berzakat, meninggalkan perbuatan yang sia-sia, menjaga kehormatan (kemaluan), dan menjaga amanat. Dalam Hadis terkenal misalnya ciri orang beriman adalah berkata baik atau diam, menghormati tetangga. Kebanyakan ciri-ciri orang beriman berkaitan dengan amal nyata atau kerja.
Suatu ketika, Rasulullah mencium tangan kasar seseorang karena bekerja keras sebagai pemecah batu dan beliau memujinya bahwa tangan itu dicintai Allah. Subhanallah! …..
Kerja Keras Para Nabi dan Orang-orang Shalih
Kemudian kalau kita pelajari sejarah para Nabi AS, apalagi sejarah Nabi
Muhammad SAW, para sahabat Nabi, hingga zaman keemasan Islam semua memiliki teladan yang sama, yaitu kerja keras membangun diri dan masyarakat. Tidak ada satu pun contoh-contoh dari mereka yang hanya mementingkan ibadah ritual semata.
Sebagai contoh akan diulas singkat teladan Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW. Di antara para rasul yang paling banyak dikisahkan dalam Al Quran adalah Nabi Musa AS. Kalau dilihat kisahnya, berisi perjuangan luar biasa membina masyarakat Bani Israil. Mulai dari hijrah bertemu Nabi Syuaib AS, menghadapi Firaun, memimpin exodus besar-besaran Bani Israil dari Mesir ke Palestina yang memakan waktu puluhan tahun, hingga yang sangat menyita waktu adalah memberi dakwah kepada Bani Israil yang sangat “ngeyel”.
Begitu juga Nabi Muhammad SAW, beliau tidak hanya menghabiskan waktu untuk berzikir saja. Baik pada periode Makkah maupun Madinah, beliau bekerja keras mendakwahkan Islam person to person, membina mental sahabat, membentuk kader, membangun masyarakat, memimpin perang, mengatur strategi, membuat perundingan, dan lain-lain. Kalau kita pelajari detil sejarah Nabi Muhammad SAW, kita dapati hari demi hari, tahun demi tahun yang penuh perjuangan dan kerja keras bersama para sahabat. Pada saat Rasulullah SAW wafat umat Islam menguasai hampir seluruh jazirah Arab.
Hal ini dilanjutkan oleh para Khalifah Rasyidah, hingga dalam waktu singkat
(terutama masa Umar Al-Faruq) Islam menyebar dengan penaklukan Persia
(superpower masa itu) ke barat hingga ke Afrika berhadapan dengan Bizantium
(superpower yang lain). Kemudian sejarah berlanjut hingga penaklukan Eropa,
India, sehingga umat Islam menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan pada saat itu. Sejarah yang luar biasa! Dan itu dicapai dengan kerja keras, bukan hanya ibadah ritual semata.
Secara pribadi, kita juga mendapati Rasulullah SAW dan para sahabat adalah
orang-orang yang menyukai kerja. Rasulullad SAW selain bekerja untuk umatnya, beliau melubangi sendiri sandalnya, menambal sendiri bajunya, memeras sendiri susu kambingnya dan melayani keluarga. Subhanallah, Rasulullah adalah pemimpin sejati!
Kerja: Gerak Universal alam semesta
Al-Quran memuat sangat banyak kejadian-kejadian alam semesta, bahkan menurut Dr Mahdi Ghulsyani (cendekiawan muslim Iran) hingga 10% dari ayat-ayat Al-Quran. Semua berpusat pada ketundukan, tasbih dan sujud jagad raya pada Tuhannya. Salah satu di antaranya, “Bertasbihlah kepada Allah semua yang ada di langit dan di bumi, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(QS 61:1)
Kita tidak tahu bagaimana tasbih alam semesta, namun manifestasinya sangat
jelas. Manifestasi dari tasbih dan sujud alam semesta adalah aneka kerja yang
kontinu dan teratur dari alam semesta. Gerakan aneka benda langit pada orbitnya, reaksi fusi bintang-bintang yang menyebarkan energi kepada lingkungan, pengembangan alam semesta, sebagai contoh di antaranya. Semua bergerak, bekerja, dan berproses, itulah bentuk ibadah mereka yang bisa kita lihat. Di antara bentuk ibadah batu misalnya adalah dengan meluncur jatuh, sebagaimana ayat, “.. dan di antaranya (batu) ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah”(QS 2:74)
Banyak sekali ayat-ayat tentang alam semesta, dari yang besar mengenai galaksi hingga hewan-hewan kecil seperti semut, semua mengikuti perintah Allah dengan bekerja secara terus menerus. Sehingga kita bekerja pada dasarnya adalah seirama dengan gerak universal alam semesta, seirama dengan sujud alam semesta. Kahlil Gibran dalam Sang Nabi membuat puisi yang sangat indah:
Kau bekerja, supaya langkahmu seiring irama bumi
Serta perjalanan roh jagad ini
Berpangku tangan menjadikanmu orang asing bagi musim,
Serta keluar dari kehidupan itu sendiri
Yang menderap perkasa, megah dalam ketaatannya
Menuju keabadian masa
Bekerja sebagai Pengabdian kepada Allah SWT
Kalau sekedar bekerja, bukankah semua orang melakukan, umat lain melakukannya? Bahkan kaum ateis pun bekerja. Lalu apa bedanya?
Tentu ajaran bekerja para Nabi sangat berbeda. Bekerja dalam ajaran Islam
adalah manifestasi dari iman. Bekerja adalah sebagai bagian dari ibadah. Sedang bagi umat yang lain, mungkin hanya sekedar mengisi waktu, mengejar harta, dll.
Berikut secara ringkas ciri bekerja sebagai pengabdian kepada Allah SWT:
1. Motivasi kerja : pengabdian kepada atau mencari ridha Allah SWT
2. Cara kerja : sesuai/tidak bertentangan dengan syariat Islam
3. Bidang kerja : yang halal, baik/ma’ruf
4. Manfaat kerja : kebaikan, kesejahteraan, keselamatan bagi semua (rahmatan lil alamin)
Dengan bekerja sebagai motivasi ibadah, semestinya selalu memberikan yang
terbaik. Selalu bekerja semaksimal mungkin, bukan seadanya. Itulah yang disebut sebagai “ihsan” (berbuat baik) atau “itqan”(hasil terbaik). Allah bahkan
memerintahkan kita meniru karya Allah dalam bekerja, “… maka berbuat baiklah (fa ahsin) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”(QS 28:77)
Bekerja dengan motivasi di atas semestinya juga akan melahirkan kerja keras,
tegar, jujur, dan profesional dalam kondisi apa pun. Berbeda dengan motivasi
jabatan misalnya, hanya bekerja ketika ada iming-iming atau konsekuensi jabatan, jika tidak dia akan enggan. Sedang bekerja dengan motivasi ibadah semesteinya akan bekerja dengan semangat meski imbalan langsung tidak nampak, meskipun uang sedikit, meski tidak ada yang melihat, meski tidak dipuji atasan. Karena memang motivasinya adalah pengabdian kepada Allah SWT. Sedang Dia selalu ada, selalu mengawasi, selalu mengetahui apa yang kita lakukan.
Kalau demikian, mengapa bangsa muslim kini justru identik dengan bangsa yang malas, tidak dapat dipercaya, tidak disiplin, kurang etos kerja, bahkan :
korup!? Ini kenyataan yang harus kita akui bersama, dan menjadi tugas kita
bersama untuk memperbaiki. Mulai dari diri sendiri, di sini dan sekarang!
Ternyata kini kita bekerja jauh dari semangat dan nilai-nilai Islam dan teladan
para pendahulu kita. Kita juga memandang agama dengan cara yang salah. Kita menganggap kerja dan ibadah adalah dua hal yang berbeda dan terpisah. Akibatnya adalah sikap mendua (split personality) dalam bekerja. Maka kini kita dapati kenyataan aneh seperti orang yang rajin beribadah (ritual) namun rajin juga menilap aset kantor, bahkan milik masyarakat, tidak jujur, atau suka main terabas.
Kita sudah shalat, namun shalat kita belum mampu membangun karakter sehingga mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kita belum bisa menjadikan puasa sebagai perisai kita melawan tarikan nafsu-nafsu yang rendah. Kita belum mampu menjadikan haji sebagai total pengabdian kepada Allah SWT.
Masya Allah, kita beragama namun menjauh dari nilai-nilai agama. Kita beribadah ritual namun kita semakin menjauh dari petunjuk Allah. Kita lebih memilih topeng dalam beragama. Kita memilih kulitnya, lalu membuang isinya.
Akhirnya, marilah kita jadikan setiap ayunan langkah kita dalam bekerja sebagai zikir kita kepada Allah SWT. Kita jadikan setiap gerakan tangan kita dalam bekerja sebagai tasbih kita kepadaNya. Kita jadikan setiap ucapan dan pikiran dalam bekerja sebagai sujud dan syukur kita kepada Rabbul Izzati.
Amien!
dikutip dari : http://soni69.tripod.com/kerja.htm
“.. Dan bekerjalah, Wahai Keluarga Daud, sebagai (ungkapan) syukur (kepada
Allah) (QS 34;14)
Banyak orang memberikan gambaran orang Islam yang baik dan taat, adalah
semata-mata dari berapa banyak dia melakukan shalat sunat, doa-doa,
dzikir-dzikir, dan lain-lain. Sangat jarang orang mengaitkan ketaatan beragama
misalnya dengan bagaimana dia giat bekerja, tegar berusaha, rajin di laboratorium atau berperilaku hemat. Bahkan kadang orang yang "terlalu" giat bekerja dicap sebagai orang yang jauh dari agama.
Tentu benar, ketaatan beribadah (dalam arti ritual) menjadi syarat mutlak ketaatan seseorang, namun sesungguhnya kalau kita kaji lebih dalam Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kerja, amal saleh (yang artinya perbuatan baik), atau action. Kerja adalah bagian penting dari ibadah. Islam adalah agama kerja.
Berikut, akan disampaikan sepintas ilustrasi bagaimana Islam sesungguhnya
meninggikan nilai kerja, amal nyata, atau action yang berguna bagi lingkungan
dan bagi sesama.
Kerja adalah Pesan Moral dan Tindak Lanjut dari Ibadah Ritual
Kalau kita perhatikan ibadah (ritual) dalam Islam memiliki bentuk yang sangat
khas dibanding dengan agama lain. Apa itu? Jika ibadah dalam agama lain
dilakukan dengan kondisi relatif diam, tenang, dan pasif, maka ibadah dalam
Islam sangat dinamis, dan penuh dengan gerakan-gerakan. Contoh sangat nyata adalah shalat. Shalat adalah ibadah yang sangat sentral dan teragung dalam Islam, bahkan menjadi batas keimanan seseorang atau tidak. Kalau kita amati, shalat dari awal sampai dengan akhir, disertai dengan gerakan seluruh tubuh kita. Apalagi haji, sebagai ibadah paripurna seorang muslim. Haji adalan ibadah total action, sangat penuh dengan gerakan fisik. Kalau shalat meski penuh gerakan namun di tempat saja, maka haji gerakannya melintasi tempat yang jauh. Begitu juga puasa, zakat, semuanya action.
Ibadah adalah penghambaan kepada Allah semata, namun semua ibadah kita harus memiliki implikasi kerja, implikasi sosial. Bahkan tata urutan ibadah selalu terkait dengan kerja. Shalat, misalnya, didasari dengan wudlu (penyucian diri), diawali dengan takbir (pengagungan kepada Allah), dan diakhiri dengan salam ke kanan dan kekiri. Salam adalah menyebarkan kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan. Pesannya sangat jelas! Kegiatan ibadah shalat berupa ibadah penyucian diri, dan mengagungkan Allah, harus dibuktikan dengan menyebarkan kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan kepada lingkungan. Dan itu –tidak bisa tidak- dilakukan dengan kerja, action.
Secara jelas Al-Quran menyebut pesan moral atau tujuan dari shalat berkaitan
dengan kerja. “…dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar” (QS Al-Ankabut: 45)
Begitu juga ibadah shaum (puasa) yang merupakan ibadah pengendalian nafsu dan penyucian diri, diakhiri dengan zakat fitrah, yaitu berbagi kepada sesama. Tidak berbeda dengan shalat, puasa juga harus mampu melahirkan semangat kerja. Haji diawali dengan wukuf (berdiam diri), dilanjutkan dengan tawaf, melempar jumrah, dan saí. Semuanya action.
Semua kegiatan ibadah memiliki benang merah yang sama. Kegiatan ibadah adalah merupakan penyucian jiwa, pengisian dengan sifat-sifat suci Allah, pengagungan dan berkomunikasi dengan Allah, yang harus diwujudkan dalam amal shaleh – kerja- kepada sesama.
Dinamisnya ibadah dalam Islam juga terlihat pada arsitektur masjid. Berbeda
dengan tempat ibadah agama lain yang dirancang tertutup, sepi, kadang kalau
perlu gelap, jauh dari keramaian. Masjid selalu bercirikan terang, terbuka,
banyak jendela, dan berada di dalam pusat aktivitas manusia. Bahkan dalam
sejarah Nabi, pengaturan umat selalu dilakukan di dalam masjid.
Ketinggian Kerja dalam Al-Quran dan Sunah Nabi.
Al-Quran dalam banyak sekali ayat, menyebutkan bahwa iman saja tidak cukup, tetapi harus disertai dengan amal shaleh, kerja, action. Tidak cukup iman saja tetapi harus dimanifestasikan dengan amal. Cukuplah, dinukilkan surat Al-Ashr untuk mewakili ayat-ayat tentang iman dan amal shaleh.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Dari ciri-ciri orang yang tidak rugi, selain keimanan semuanya berkaitan dengan kerja; amal shaleh, menasehati, menaati kebenaran, menetapi kesabaran.
Al-Quran juga memerintahkan agar kita selalu mencari karunia Allah di bumi
dengan bekerja sebagai ungkapan rasa syukur, bahkan setelah shalat pun kita
dianjurkan untuk segera bertebaran di muka bumi untuk bekerja. Sebagaimana
disebut dalam ayat-ayat berikut:
“.. Dan bekerjalah, Wahai Keluarga Daud, sebagai (ungkapan) syukur (kepada
Allah) (QS 34;14)
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala
penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya.” (QS 67: 15)
"Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan
carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."( QS 62: 10)
Dalam hadis juga banyak diungkapkan tentang orang-orang yang utama, kebanyakan berkaitan dengan kerja, tindakan, action. Berikut di antaranya hadis-hadis yang terkenal:
“Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik perangainya/ akhlaqnya”
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
“Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya."
“Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”
“Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik (berperilaku) kepada keluarganya”
“Tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah”
“Sebaik-baik kamu ialah orang yang mempertahankan keluarganya selagi perbuatan itu tidak membawa kepada dosa”
“Barangsiapa yang menjadi susah pada petang hari kerana kerjanya, maka
terampunlah dosanya.” (Hadis riwayat Tabrani)
Bekerja bukan hanya dianjurkan untuk memberi manfaat kepada manusia, tetapi juga sangat dipuji jika bermanfaat bagi makhluk yang lain.
Rasulullah S.A.W. bersabda, "Seorang muslim yang menanam atau menabur benih, lalu ada sebahagian yang dimakan oleh burung atau manusia, atapun oleh binatang, nescaya semua itu akan menjadi sedekah baginya" (Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad).
Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman, baik dalam Al-Quran selalu
menyebut dengan amal, kerja, kegiatan, atau action. Misalnya ciri-ciri orang
beriman dalam surat Al-Mukminun 1-11, yang menyebutkan ciri orang beriman
sebagai orang yang khusyu shalat, berzakat, meninggalkan perbuatan yang sia-sia, menjaga kehormatan (kemaluan), dan menjaga amanat. Dalam Hadis terkenal misalnya ciri orang beriman adalah berkata baik atau diam, menghormati tetangga. Kebanyakan ciri-ciri orang beriman berkaitan dengan amal nyata atau kerja.
Suatu ketika, Rasulullah mencium tangan kasar seseorang karena bekerja keras sebagai pemecah batu dan beliau memujinya bahwa tangan itu dicintai Allah. Subhanallah! …..
Kerja Keras Para Nabi dan Orang-orang Shalih
Kemudian kalau kita pelajari sejarah para Nabi AS, apalagi sejarah Nabi
Muhammad SAW, para sahabat Nabi, hingga zaman keemasan Islam semua memiliki teladan yang sama, yaitu kerja keras membangun diri dan masyarakat. Tidak ada satu pun contoh-contoh dari mereka yang hanya mementingkan ibadah ritual semata.
Sebagai contoh akan diulas singkat teladan Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW. Di antara para rasul yang paling banyak dikisahkan dalam Al Quran adalah Nabi Musa AS. Kalau dilihat kisahnya, berisi perjuangan luar biasa membina masyarakat Bani Israil. Mulai dari hijrah bertemu Nabi Syuaib AS, menghadapi Firaun, memimpin exodus besar-besaran Bani Israil dari Mesir ke Palestina yang memakan waktu puluhan tahun, hingga yang sangat menyita waktu adalah memberi dakwah kepada Bani Israil yang sangat “ngeyel”.
Begitu juga Nabi Muhammad SAW, beliau tidak hanya menghabiskan waktu untuk berzikir saja. Baik pada periode Makkah maupun Madinah, beliau bekerja keras mendakwahkan Islam person to person, membina mental sahabat, membentuk kader, membangun masyarakat, memimpin perang, mengatur strategi, membuat perundingan, dan lain-lain. Kalau kita pelajari detil sejarah Nabi Muhammad SAW, kita dapati hari demi hari, tahun demi tahun yang penuh perjuangan dan kerja keras bersama para sahabat. Pada saat Rasulullah SAW wafat umat Islam menguasai hampir seluruh jazirah Arab.
Hal ini dilanjutkan oleh para Khalifah Rasyidah, hingga dalam waktu singkat
(terutama masa Umar Al-Faruq) Islam menyebar dengan penaklukan Persia
(superpower masa itu) ke barat hingga ke Afrika berhadapan dengan Bizantium
(superpower yang lain). Kemudian sejarah berlanjut hingga penaklukan Eropa,
India, sehingga umat Islam menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan pada saat itu. Sejarah yang luar biasa! Dan itu dicapai dengan kerja keras, bukan hanya ibadah ritual semata.
Secara pribadi, kita juga mendapati Rasulullah SAW dan para sahabat adalah
orang-orang yang menyukai kerja. Rasulullad SAW selain bekerja untuk umatnya, beliau melubangi sendiri sandalnya, menambal sendiri bajunya, memeras sendiri susu kambingnya dan melayani keluarga. Subhanallah, Rasulullah adalah pemimpin sejati!
Kerja: Gerak Universal alam semesta
Al-Quran memuat sangat banyak kejadian-kejadian alam semesta, bahkan menurut Dr Mahdi Ghulsyani (cendekiawan muslim Iran) hingga 10% dari ayat-ayat Al-Quran. Semua berpusat pada ketundukan, tasbih dan sujud jagad raya pada Tuhannya. Salah satu di antaranya, “Bertasbihlah kepada Allah semua yang ada di langit dan di bumi, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(QS 61:1)
Kita tidak tahu bagaimana tasbih alam semesta, namun manifestasinya sangat
jelas. Manifestasi dari tasbih dan sujud alam semesta adalah aneka kerja yang
kontinu dan teratur dari alam semesta. Gerakan aneka benda langit pada orbitnya, reaksi fusi bintang-bintang yang menyebarkan energi kepada lingkungan, pengembangan alam semesta, sebagai contoh di antaranya. Semua bergerak, bekerja, dan berproses, itulah bentuk ibadah mereka yang bisa kita lihat. Di antara bentuk ibadah batu misalnya adalah dengan meluncur jatuh, sebagaimana ayat, “.. dan di antaranya (batu) ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah”(QS 2:74)
Banyak sekali ayat-ayat tentang alam semesta, dari yang besar mengenai galaksi hingga hewan-hewan kecil seperti semut, semua mengikuti perintah Allah dengan bekerja secara terus menerus. Sehingga kita bekerja pada dasarnya adalah seirama dengan gerak universal alam semesta, seirama dengan sujud alam semesta. Kahlil Gibran dalam Sang Nabi membuat puisi yang sangat indah:
Kau bekerja, supaya langkahmu seiring irama bumi
Serta perjalanan roh jagad ini
Berpangku tangan menjadikanmu orang asing bagi musim,
Serta keluar dari kehidupan itu sendiri
Yang menderap perkasa, megah dalam ketaatannya
Menuju keabadian masa
Bekerja sebagai Pengabdian kepada Allah SWT
Kalau sekedar bekerja, bukankah semua orang melakukan, umat lain melakukannya? Bahkan kaum ateis pun bekerja. Lalu apa bedanya?
Tentu ajaran bekerja para Nabi sangat berbeda. Bekerja dalam ajaran Islam
adalah manifestasi dari iman. Bekerja adalah sebagai bagian dari ibadah. Sedang bagi umat yang lain, mungkin hanya sekedar mengisi waktu, mengejar harta, dll.
Berikut secara ringkas ciri bekerja sebagai pengabdian kepada Allah SWT:
1. Motivasi kerja : pengabdian kepada atau mencari ridha Allah SWT
2. Cara kerja : sesuai/tidak bertentangan dengan syariat Islam
3. Bidang kerja : yang halal, baik/ma’ruf
4. Manfaat kerja : kebaikan, kesejahteraan, keselamatan bagi semua (rahmatan lil alamin)
Dengan bekerja sebagai motivasi ibadah, semestinya selalu memberikan yang
terbaik. Selalu bekerja semaksimal mungkin, bukan seadanya. Itulah yang disebut sebagai “ihsan” (berbuat baik) atau “itqan”(hasil terbaik). Allah bahkan
memerintahkan kita meniru karya Allah dalam bekerja, “… maka berbuat baiklah (fa ahsin) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”(QS 28:77)
Bekerja dengan motivasi di atas semestinya juga akan melahirkan kerja keras,
tegar, jujur, dan profesional dalam kondisi apa pun. Berbeda dengan motivasi
jabatan misalnya, hanya bekerja ketika ada iming-iming atau konsekuensi jabatan, jika tidak dia akan enggan. Sedang bekerja dengan motivasi ibadah semesteinya akan bekerja dengan semangat meski imbalan langsung tidak nampak, meskipun uang sedikit, meski tidak ada yang melihat, meski tidak dipuji atasan. Karena memang motivasinya adalah pengabdian kepada Allah SWT. Sedang Dia selalu ada, selalu mengawasi, selalu mengetahui apa yang kita lakukan.
Kalau demikian, mengapa bangsa muslim kini justru identik dengan bangsa yang malas, tidak dapat dipercaya, tidak disiplin, kurang etos kerja, bahkan :
korup!? Ini kenyataan yang harus kita akui bersama, dan menjadi tugas kita
bersama untuk memperbaiki. Mulai dari diri sendiri, di sini dan sekarang!
Ternyata kini kita bekerja jauh dari semangat dan nilai-nilai Islam dan teladan
para pendahulu kita. Kita juga memandang agama dengan cara yang salah. Kita menganggap kerja dan ibadah adalah dua hal yang berbeda dan terpisah. Akibatnya adalah sikap mendua (split personality) dalam bekerja. Maka kini kita dapati kenyataan aneh seperti orang yang rajin beribadah (ritual) namun rajin juga menilap aset kantor, bahkan milik masyarakat, tidak jujur, atau suka main terabas.
Kita sudah shalat, namun shalat kita belum mampu membangun karakter sehingga mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kita belum bisa menjadikan puasa sebagai perisai kita melawan tarikan nafsu-nafsu yang rendah. Kita belum mampu menjadikan haji sebagai total pengabdian kepada Allah SWT.
Masya Allah, kita beragama namun menjauh dari nilai-nilai agama. Kita beribadah ritual namun kita semakin menjauh dari petunjuk Allah. Kita lebih memilih topeng dalam beragama. Kita memilih kulitnya, lalu membuang isinya.
Akhirnya, marilah kita jadikan setiap ayunan langkah kita dalam bekerja sebagai zikir kita kepada Allah SWT. Kita jadikan setiap gerakan tangan kita dalam bekerja sebagai tasbih kita kepadaNya. Kita jadikan setiap ucapan dan pikiran dalam bekerja sebagai sujud dan syukur kita kepada Rabbul Izzati.
Amien!
dikutip dari : http://soni69.tripod.com/kerja.htm
Pacaran dalam Islam
Gimana sich sebenernya pacaran itu, enak ngga' ya? Bahaya ngga' ya ? Apa bener pacaran itu harus kita lakukan kalo mo nyari pasangan hidup kita ? Apa memang bener ada pacaran yang Islami itu, dan bagaimana kita menyikapi hal itu?
Memiliki rasa cinta adalah fitrah
Ketika hati udah terkena panah asmara, terjangkit virus cinta, akibatnya...... dahsyat man...... yang diinget cuma si dia, pengen selalu berdua, akan makan inget si dia, waktu tidur mimpi si dia. Bahkan orang yang lagi fall in love itu rela ngorbanin apa aja demi cinta, rela ngelakuin apa aja demi cinta, semua dilakukan agar si dia tambah cinta. Sampe' akhirnya....... pacaran yuk. Cinta pun tambah terpupuk, hati penuh dengan bunga. Yang gawat lagi, karena pengen bukti'in cinta, bisa buat perut buncit (hamil). Karena cinta diputusin bisa minum baygon. Karena cinta ditolak .... dukun pun ikut bertindak.
Sebenarnya manusia secara fitrah diberi potensi kehidupan yang sama, dimana potensi itu yang kemudian selalu mendorong manusia melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Potensi ini sendiri bisa kita kenal dalam dua bentuk. Pertama, yang menuntut adanya pemenuhan yang sifatnya pasti, kalo ngga' terpenuhi manusia bakalan binasa. Inilah yang disebut kebutuhan jasmani (haajatul 'udwiyah), seperti kebutuhan makan, minum, tidur, bernafas, buang hajat de el el. Kedua, yang menuntut adanya pemenuhan aja, tapi kalo' kagak terpenuhi manusia ngga' bakalan mati, cuman bakal gelisah (ngga' tenang) sampe' terpenuhinya tuntutan tersebut, yang disebut naluri atau keinginan (gharizah). Kemudian naluri ini di bagi menjadi 3 macam yang penting yaitu :
Gharizatul baqa' (naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, cinta harta, cinta pada kedudukan, pengen diakui, de el el.
Gharizatut tadayyun (naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.
Gharizatun nau' (naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, temen, sodara, kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi kepada lawan jenis.
Pacaran dalam perspektif islam
In fact, pacaran merupakan wadah antara dua insan yang kasmaran, dimana sering cubit-cubitan, pandang-pandangan, pegang-pegangan, raba-rabaan sampai pergaulan ilegal (seks). Islam sudah jelas menyatakan: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Q. S. Al Isra' : 32)
Seringkali sewaktu lagi pacaran banyak aktivitas laen yang hukumnya wajib maupun sunnah jadi terlupakan. Sampe-sampe sewaktu sholat sempat teringat si do'i. Pokoknya aktivitas pacaran itu dekat banget dengan zina. So....kesimpulannya PACARAN ITU HARAM HUKUMNYA, and kagak ada legitimasi Islam buatnya, adapun beribu atau berjuta alasan tetep aja pacaran itu haram.
Adapun resep nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud: "Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu."(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).
Jangan suka mojok atau berduaan ditempat yang sepi, karena yang ketiga adalah syaiton. Seperti sabda nabi: "Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syaiton menemaninya, janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya." (HR. Imam Bukhari Muslim).
Dan untuk para muslimah jangan lupa untuk menutup aurotnya agar tidak merangsang para lelaki. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya." (Q. S. An Nuur : 31).
Dan juga sabda Nabi: "Hendaklah kita benar-benar memejakamkan mata dan memelihara kemaluan, atau benar-benar Allah akan menutup rapat matamu."(HR. Thabrany).
Yang perlu di ingat bahwa jodoh merupakan QADLA' (ketentuan) Allah, dimana manusia ngga' punya andil nentuin sama sekali, manusia cuman dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Tercantum dalam Al Qur'an: "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)."
Wallahu A'lam bish-Showab
Oleh: Buletin Dakwah Remas RIHLAH SMU N I Sooko, edisi 6, 1421 H
Disalin dari Lembar Buletin Dakwah BINTANG (2)
Dikutip dari http://www.alislam.or.id/artikel/arsip/00000028.html
Memiliki rasa cinta adalah fitrah
Ketika hati udah terkena panah asmara, terjangkit virus cinta, akibatnya...... dahsyat man...... yang diinget cuma si dia, pengen selalu berdua, akan makan inget si dia, waktu tidur mimpi si dia. Bahkan orang yang lagi fall in love itu rela ngorbanin apa aja demi cinta, rela ngelakuin apa aja demi cinta, semua dilakukan agar si dia tambah cinta. Sampe' akhirnya....... pacaran yuk. Cinta pun tambah terpupuk, hati penuh dengan bunga. Yang gawat lagi, karena pengen bukti'in cinta, bisa buat perut buncit (hamil). Karena cinta diputusin bisa minum baygon. Karena cinta ditolak .... dukun pun ikut bertindak.
Sebenarnya manusia secara fitrah diberi potensi kehidupan yang sama, dimana potensi itu yang kemudian selalu mendorong manusia melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Potensi ini sendiri bisa kita kenal dalam dua bentuk. Pertama, yang menuntut adanya pemenuhan yang sifatnya pasti, kalo ngga' terpenuhi manusia bakalan binasa. Inilah yang disebut kebutuhan jasmani (haajatul 'udwiyah), seperti kebutuhan makan, minum, tidur, bernafas, buang hajat de el el. Kedua, yang menuntut adanya pemenuhan aja, tapi kalo' kagak terpenuhi manusia ngga' bakalan mati, cuman bakal gelisah (ngga' tenang) sampe' terpenuhinya tuntutan tersebut, yang disebut naluri atau keinginan (gharizah). Kemudian naluri ini di bagi menjadi 3 macam yang penting yaitu :
Gharizatul baqa' (naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, cinta harta, cinta pada kedudukan, pengen diakui, de el el.
Gharizatut tadayyun (naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.
Gharizatun nau' (naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, temen, sodara, kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi kepada lawan jenis.
Pacaran dalam perspektif islam
In fact, pacaran merupakan wadah antara dua insan yang kasmaran, dimana sering cubit-cubitan, pandang-pandangan, pegang-pegangan, raba-rabaan sampai pergaulan ilegal (seks). Islam sudah jelas menyatakan: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Q. S. Al Isra' : 32)
Seringkali sewaktu lagi pacaran banyak aktivitas laen yang hukumnya wajib maupun sunnah jadi terlupakan. Sampe-sampe sewaktu sholat sempat teringat si do'i. Pokoknya aktivitas pacaran itu dekat banget dengan zina. So....kesimpulannya PACARAN ITU HARAM HUKUMNYA, and kagak ada legitimasi Islam buatnya, adapun beribu atau berjuta alasan tetep aja pacaran itu haram.
Adapun resep nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud: "Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu seta berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu."(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).
Jangan suka mojok atau berduaan ditempat yang sepi, karena yang ketiga adalah syaiton. Seperti sabda nabi: "Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syaiton menemaninya, janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya." (HR. Imam Bukhari Muslim).
Dan untuk para muslimah jangan lupa untuk menutup aurotnya agar tidak merangsang para lelaki. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya." (Q. S. An Nuur : 31).
Dan juga sabda Nabi: "Hendaklah kita benar-benar memejakamkan mata dan memelihara kemaluan, atau benar-benar Allah akan menutup rapat matamu."(HR. Thabrany).
Yang perlu di ingat bahwa jodoh merupakan QADLA' (ketentuan) Allah, dimana manusia ngga' punya andil nentuin sama sekali, manusia cuman dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Tercantum dalam Al Qur'an: "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)."
Wallahu A'lam bish-Showab
Oleh: Buletin Dakwah Remas RIHLAH SMU N I Sooko, edisi 6, 1421 H
Disalin dari Lembar Buletin Dakwah BINTANG (2)
Dikutip dari http://www.alislam.or.id/artikel/arsip/00000028.html
ikhtilat (pergaulan bebas) dalam pandangan islam
Ikhtilat merupakan suatu bentuk pergaulan/hubungan secara bebas yang melibatkan lelaki dan perempuan yang ajnabi samada di tempat sunyi atau di tempat terbuka. Ia merupakan suatu ciri pergaulan masyarakat jahiliyyah dan juga berasaskan kepada nilai2 dan system hidup jahiliyyah. Bentuk pergaulan seperti ini telah ditolak oleh Islam sejak kedatangan Rasulullah SAW yang membawa system dan nilai hidup yg dipandu oleh Al-Quran dan Sunnah.
BEZA ANTARA IKHTILAT DAN KHALWAT
IKHTILAT
Seorang lelaki & seorang perempuan berada bersama di tempat terbuka.
§ Cth : Di pasar/bank/sekolah @ tempat awam semasa berurusan.
2 atau lebih lelaki dan perempuan berada bersama dan tidak berniat untuk berkhalwat walaupun berada di tempat tertutup atau sunyi
§ Cth : Bermesyuarat dlm bilik khusus,belajar di kelas/dewan kuliah.
KHALWAT
Seorang lelaki dan perempuan berada bersama di tempat tertutup/sunyi.
§ Cth : Sudah sedia maklum dah......Dlm bilik/hotel berdua2an.
2 atau lebih lelaki dan perempuan berada bersama dan berniat untuk melakukan khalwat ditempat tertutup/sunyi.
§ Cth : Sekumpulan lelaki&perempuan berpakat berkhalwat dalam dewan tertutup walaupun dalam jumlah yg ramai.
SALAH KE???
Ramai yg bertanyakan soalan ini malah selalu diajukan soalan ini. Semasa saya di sekolah dahulu,soalan ini amat famous sekali diajukan pada saya malah sentiasa menjadi isu semasa yang panas dalam usrah saya. Disini saya utarakan 3 pendapat atau 3 golongan dalam menghukum dan mengadili permasalahan ini:-
1- GOLONGAN MUTASYADDIDUN
· Golongan ini amat keras/syadid dalam berhukum sehingga menfatwakan kesemua ikhtilat itu haram dalam apa jua keadaan sekalipun. Cth : Sekolah perlu diasingkan antara lelaki dan perempuan hatta sekolah rendah/tadika sekalipun. Malah guru perempuan hanya boleh mengajar di sekolah perempuan sahaja dan begitulah sebaliknya. Di Arab Saudi, ayah dilarang untuk menghadiri majlis di sekolah(cth:PIBG) bagi pihak anak perempuannya.
· Golongan ini juga turut mendakwa memakai niqab adalah wajib selain menutup seluruh aurat.
2- GOLONGAN MUTASAHHILIN
· Golongan ini terlalu memudah2kan urusan agama sehingga soal aurat dan ikhtilat ini dipandang enteng.
· Aurat boleh didedahkan dan percampuran lelaki dan perempuan dibolehkan tanpa batasan atas dasar kebebasan dan hak individu.
3- GOLONGAN MUTAWASITTHIN
· Golongan ini adalah golongan pertengahan yang menjadi pegangan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah.
· Golongan ini bersederhana dalam pengamalan. Tidak terlalu keras/syadid atau tidak terlalu memudahkan dalam pergaulan lelaki dan perempuan.
· Tidak mengharamkan dan tidak menghalalkan terus secara mutlak percampuran lelaki dan perempuan malah meletakkan garis panduan dan syarat2 tertentu dalam pengamalan ikhtilat.
Daripada huraian diatas, kita perlu berpegang dan berhukum dengan golongan yg ketiga dan menolak pegangan golongan pertama dan kedua. Kita boleh berikhtilat lelaki dan perempuan tetapi mestilah disertai dengan etika garis panduan yang ditetapkan. Jika kita mengatakan haram berikhtilat secara mutlak,maka apa hikmahnya Allah menciptakan kaum wanita di bumi ini. Jika begitu,adalah munasabah jika kaum wanita berada di planet lain yang mana dikhususkan hanya untuk kaum wanita. Begitulah sebaliknya. Islam membenarkan ikhtilat bukan secara mutlak tetapi berpandu dan terarah.
APA YANG SALAH???
Hati kita sering tertanya2... Apa yang salahnya ikhtilat ini?? Dimanakah salahnya ikhtilat ini??? Mengapa salah?? Sememangnya hati sentiasa berperang dengan nafsu. Nafsu sentiasa membenarkan apa yang diharamkan. Mungkin hati kita terasa remeh dengan faktor2 tegahan ikhtilat ini namun ia memberi impak maksima pada maruah,hati,diri dan seterusnya rantaian hubungan dengan Allah. Apa yang dilarang??
[ 1 ] MELIHAT النظر- -
" Katakanlah kepada lelaki2 yang beriman supaya menahan penglihatan mereka serta menjaga kehormatan mereka...... dan katakanlah kepada perempuan2 beriman supaya menahan penglihatan mereka serta menjaga kehormatan mereka"
Surah An-Nur 30-31
Sabda Rasulullah SAW :
" Wahai Ali janganlah pandangan yang kedua menuruti pandangan yang
pertama kerana sesungguhnya pandangan pertama itu adalah bagi kamu
sedangkan yang kedua itu dosa ke atasmu"
Riwayat Ahmad,Abu Daud,Tarmizi
[ 2 ] SENTUH – المسح -
Sentuhan amat beracun kerana lelaki dan perempuan mempunyai kuasa magnet yang positif+negetif. Ada kutub utara+kutub selatan. Dalil sudah sedia maklum tentang pengharaman sentuhan lelaki/perempuan.
[ 3 ] BERCAKAP LEMBUT – الحضوع في القول –
" Dan janganlah kamu ( isteri2 nabi) berkata lembut dan manja serta melunakkan suaramu ketika berbicara sehingga menimbulkan keinginan orang yang ada penyakit di dalam hatinya dan ucapkanlah dengan perkataan yang baik."
Surah Al-Ahzab 32
[ 4 ] TIADA PENDINDING ( HIJAB )
" Dan apabila kamu meminta sesuatu y harus diminta dari mereka(isteri2 nabi) mintalah dari sebalik tabir. Cra demikian lebih baik bagi hati kamu dan hati mereka"
Surah Al-Ahzab 53
[ 5 ] KHALWAT
" Tidak boleh bersunyi dari kamu dengan perempuan dan tidak boleh bermusafir seorang perempuan melainkan bersamanya muhrim"
Riwayat Imam Bukhari
PECAHAN IKHTILAT
Seperti yg bincangkan diatas,Islam meletakkan garis panduan etika bagi masalah ikhtilat ini. Ikhtilat pula terbahagi kepada 2 iaitu :
[ 1 ] Ikhtilat ghoiri syar'ie
[ 2 ] Ikhtilat syar'ie
IKHTILAT GHOIRI SYAR'IE
1- Percampuran yang boleh menghilangkan maruah
2- Percampuran yang boleh menimbulkan fitnah
3- Bercanggah dengan adat dan adab etika Islam
4- Bukan berhajat. Yakni tidak mempunyai sebarang hajat.
5- Tidak ikut adab Islam. Tidak mengasingkan tempat lelaki/perempuan. Ikhtilat seperti ini hendaklah dicegah jika bertepatan dengan syarat. IKHTILAT SYAR'IE
1- Mempunyai hajat
· Tempat menuntut ilmu
· Medan jihad
· Gerakan dakwah. Amar makruf nahi mungkar
· Menziarah
· Menghadiri jemputan. Cth: Kenduri kahwin dlll
· Menunaikan haji dan Umrah
· Musafir syar'ie
· Muhasabah kepimpinan. Cth: Mesyuarat agung,pembentangan
· Menjadi saksi
· Menyaksikan hukuman. Cth: Menyaksikan hukuman hudud SYARAT2 IKHTILAT
1- Tidak bersentuhan
2- Menjaga aurat
3- Menjaga adab bercakap
4- Mengasingkan tempat ( Pada tempat2 tertentu )
5- Dibawah kawalan orang yang dipercayai dan siqah.
MENGAPA DITEGAH???
1- Islam sangat berhati-hati menjaga sifat semulajadi manusia.
2- سد الزرائع iaitu menutup segala lubang-lubang maksiat
3- Mengelakkan fitnah yang mana memberi kesan yang besar dalam kehidupan.
4- Perbuatan ini termasuk dalam muqaddimah zina.
5- Menonjolkan ciri2 kemanusiaan dan meninggikan darjat kemanusiaan atas segala darjat.
6- Menolak bentuk pergaulan diatas ciri2 kebinatangan dalam proses pembentukkan masyarakat.
7- Melahirkan keperibadian dan generasi manusia yang tinggi etika.
KESIMPULAN
Sesungguhnya masalah ikhtilat ini perlu diberi pencerahan dengan suluhan Al-Quran dan Sunnah. Pergaulan bebas tanpa kawalan dan terarah akan mengunndang bahana yang membengkak dalam masyarakat. Masyarakat kita sekarang 'tenat' dan semakin menjauh dari akhlak dan budaya ketimuran.
Kembali dan berubahlah kepada pengamalan dan penghayatan Islam.. Jangan terikut dek kejahilan moden...
"Dan jika engkau menuruti kebanyakkan orang yang ada di muka bumi,nescaya
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Tiadalah mereka sangka
semata2 hanyalah berdusta"
Permasalahan Ikhtilat
Ikhtilat pada prinsipnya dijelmakan dalam bentuk hubungan bebas antara lelaki dan perempuan yang ajnabi, ia boleh berlaku samada di tempat sunyi atau di tempat yang terbuka. Kesan dari perhubungan semacam ini membuka ruang kepada berlakunya perzinaan di dalam masyarakat.
Sabda rasulullah saw:
Maksudnya : Tiada akan menyendiri seorang lelaki dan seorang perempuan itu melainkan syaitan akan menjadi orang ketiganya. Hadis Riwayat Turmu
Syariat Islam mengharamkan kepada lelaki melihat kepada wanita lain yang bukan muhrim. Seorang lelaki tidak diperbolehkan memandang kepada orang perempuan selain kepada isterinya dan wanita-wanita muhrimnya.
Firman Allah :
قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم، ويحفظوا فروجهم… وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن، ويحفظن فروجهن… ( النور ؛ 31 )
Maksudnya : katakanlah kepada lelaki-lelaki dari orang-orang beriman supaya menahan penglihatan mereka serta menjaga kehormatan mereka…dan katakanlah kepada orang perempuan-perempuan dari orang-orang yang beriman supaya menahan penglihatan mereka serta menjaga kehormatan mereka. Surah An Nur : 31
Oleh kerana menahan pandangan mustahil dapat dilakukan dalam bentuk pergaulan yang bebas (bercampur lelaki dan perempuan) maka sayugialah Islam bertindak mengharamkannya, dan Islam menetapkan kepada yang ingin bermuamalat bahawa ia mestilah mengadakan sekatan yang menghalang penglihatan di antara keduanya.
Firman Allah :
واذا سألتموهن متاعا فاسألوهن من وراء حجاب (اللأحزاب
Maksudnya : " Apabila kamu minta dari perempuan akan sesuatu seperti alat-alat yang digunakan di dalam rumah, baldi atau pinggan atau belajar ilmu atau minta sesuatu fatwa maka hendaklah kamu minta itu dari balik tabir iaitu dari belakang tabir iaitu dari suatu sekatan di antara kamu dengan perempuan itu." Surah Al Ahzab :53
Selain itu, di sini juga suka untuk dinyatakan beberapa panduan interaksi antara lelaki dan perempuan iaitu 3 perkara pokok mesti sentiasa diikuti, iaitu
1) Niat
Mestilah diniatkan kerana Allah.
2) Matlamat
Melibatkan perkara yang perlu dan diharuskan di dalam Islam, contohnya perubatan, pembelajaran serta pengurusan yang bertepatan dengan syara'.
3) Cara / Method
Suara dan gerak geri mempunyai peranan utama di dalam interaksi, samada secara fizikal atau melalui alat-alat komunikasi. Matlamat tidak mengharuskan cara. Garis panduan asas mesti sentiasa diikuti, antaranya termasuklah:
i) menjaga pandangan
ii) memelihara aurat
iii) bersuara dengan intonasi yang formal atau yang sepatutnya
iv) mengawal gerak geri agar berpadanan dengan tujuan
v) bertutur dengan perkara yang perlu sahaja
Walapun telah jelas hukum serta garis panduan berkenaan ikhtilat namun di sana kita lihat masalah ikhtilat sentiasa berlaku. Siapakah yang harus kita persalahkan?
Dan, lebih menyedihkan lagi bilamana penyakit terbaru ini juga merebak di kalangan mahasiswa Islam di tanah air termasuk warga azhari/ah. Adalah menjadi tanggungjawab kepada semua untuk sama-sama memikirkan masalah ini dan berusaha mencari jalan keluar. Kemelut ini tidak boleh dibiarkan. Penyakit yang berjangkit kepada mahasiswa kita ini mesti diubati dan dipulihkan sebelum ia benar-benar menjadi barah yang tidak dapat dirawat lagi. Semua pihak dan segala bentuk jentera mesti digerakkan ke arah itu.
Komen aku:Artikel ni bukan hasil karya aku tp kwn aku bg..Artikel ni bleh bc dlm blog aku sama.Aku letak dlm forum ni ats sbb utk igtkan suma kwn2 aku...aku tju utk aku n suma kwn2 aku yg asyik dok bercouple.Hayati n renung dgn iman ok...Wassalam Very Happy
dari http://90born.forumotion.com/islamik-corner-f38/ikhtilatpergaulan-bebas-menurut-hukum-islam-t678.htm
_________________
BEZA ANTARA IKHTILAT DAN KHALWAT
IKHTILAT
Seorang lelaki & seorang perempuan berada bersama di tempat terbuka.
§ Cth : Di pasar/bank/sekolah @ tempat awam semasa berurusan.
2 atau lebih lelaki dan perempuan berada bersama dan tidak berniat untuk berkhalwat walaupun berada di tempat tertutup atau sunyi
§ Cth : Bermesyuarat dlm bilik khusus,belajar di kelas/dewan kuliah.
KHALWAT
Seorang lelaki dan perempuan berada bersama di tempat tertutup/sunyi.
§ Cth : Sudah sedia maklum dah......Dlm bilik/hotel berdua2an.
2 atau lebih lelaki dan perempuan berada bersama dan berniat untuk melakukan khalwat ditempat tertutup/sunyi.
§ Cth : Sekumpulan lelaki&perempuan berpakat berkhalwat dalam dewan tertutup walaupun dalam jumlah yg ramai.
SALAH KE???
Ramai yg bertanyakan soalan ini malah selalu diajukan soalan ini. Semasa saya di sekolah dahulu,soalan ini amat famous sekali diajukan pada saya malah sentiasa menjadi isu semasa yang panas dalam usrah saya. Disini saya utarakan 3 pendapat atau 3 golongan dalam menghukum dan mengadili permasalahan ini:-
1- GOLONGAN MUTASYADDIDUN
· Golongan ini amat keras/syadid dalam berhukum sehingga menfatwakan kesemua ikhtilat itu haram dalam apa jua keadaan sekalipun. Cth : Sekolah perlu diasingkan antara lelaki dan perempuan hatta sekolah rendah/tadika sekalipun. Malah guru perempuan hanya boleh mengajar di sekolah perempuan sahaja dan begitulah sebaliknya. Di Arab Saudi, ayah dilarang untuk menghadiri majlis di sekolah(cth:PIBG) bagi pihak anak perempuannya.
· Golongan ini juga turut mendakwa memakai niqab adalah wajib selain menutup seluruh aurat.
2- GOLONGAN MUTASAHHILIN
· Golongan ini terlalu memudah2kan urusan agama sehingga soal aurat dan ikhtilat ini dipandang enteng.
· Aurat boleh didedahkan dan percampuran lelaki dan perempuan dibolehkan tanpa batasan atas dasar kebebasan dan hak individu.
3- GOLONGAN MUTAWASITTHIN
· Golongan ini adalah golongan pertengahan yang menjadi pegangan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah.
· Golongan ini bersederhana dalam pengamalan. Tidak terlalu keras/syadid atau tidak terlalu memudahkan dalam pergaulan lelaki dan perempuan.
· Tidak mengharamkan dan tidak menghalalkan terus secara mutlak percampuran lelaki dan perempuan malah meletakkan garis panduan dan syarat2 tertentu dalam pengamalan ikhtilat.
Daripada huraian diatas, kita perlu berpegang dan berhukum dengan golongan yg ketiga dan menolak pegangan golongan pertama dan kedua. Kita boleh berikhtilat lelaki dan perempuan tetapi mestilah disertai dengan etika garis panduan yang ditetapkan. Jika kita mengatakan haram berikhtilat secara mutlak,maka apa hikmahnya Allah menciptakan kaum wanita di bumi ini. Jika begitu,adalah munasabah jika kaum wanita berada di planet lain yang mana dikhususkan hanya untuk kaum wanita. Begitulah sebaliknya. Islam membenarkan ikhtilat bukan secara mutlak tetapi berpandu dan terarah.
APA YANG SALAH???
Hati kita sering tertanya2... Apa yang salahnya ikhtilat ini?? Dimanakah salahnya ikhtilat ini??? Mengapa salah?? Sememangnya hati sentiasa berperang dengan nafsu. Nafsu sentiasa membenarkan apa yang diharamkan. Mungkin hati kita terasa remeh dengan faktor2 tegahan ikhtilat ini namun ia memberi impak maksima pada maruah,hati,diri dan seterusnya rantaian hubungan dengan Allah. Apa yang dilarang??
[ 1 ] MELIHAT النظر- -
" Katakanlah kepada lelaki2 yang beriman supaya menahan penglihatan mereka serta menjaga kehormatan mereka...... dan katakanlah kepada perempuan2 beriman supaya menahan penglihatan mereka serta menjaga kehormatan mereka"
Surah An-Nur 30-31
Sabda Rasulullah SAW :
" Wahai Ali janganlah pandangan yang kedua menuruti pandangan yang
pertama kerana sesungguhnya pandangan pertama itu adalah bagi kamu
sedangkan yang kedua itu dosa ke atasmu"
Riwayat Ahmad,Abu Daud,Tarmizi
[ 2 ] SENTUH – المسح -
Sentuhan amat beracun kerana lelaki dan perempuan mempunyai kuasa magnet yang positif+negetif. Ada kutub utara+kutub selatan. Dalil sudah sedia maklum tentang pengharaman sentuhan lelaki/perempuan.
[ 3 ] BERCAKAP LEMBUT – الحضوع في القول –
" Dan janganlah kamu ( isteri2 nabi) berkata lembut dan manja serta melunakkan suaramu ketika berbicara sehingga menimbulkan keinginan orang yang ada penyakit di dalam hatinya dan ucapkanlah dengan perkataan yang baik."
Surah Al-Ahzab 32
[ 4 ] TIADA PENDINDING ( HIJAB )
" Dan apabila kamu meminta sesuatu y harus diminta dari mereka(isteri2 nabi) mintalah dari sebalik tabir. Cra demikian lebih baik bagi hati kamu dan hati mereka"
Surah Al-Ahzab 53
[ 5 ] KHALWAT
" Tidak boleh bersunyi dari kamu dengan perempuan dan tidak boleh bermusafir seorang perempuan melainkan bersamanya muhrim"
Riwayat Imam Bukhari
PECAHAN IKHTILAT
Seperti yg bincangkan diatas,Islam meletakkan garis panduan etika bagi masalah ikhtilat ini. Ikhtilat pula terbahagi kepada 2 iaitu :
[ 1 ] Ikhtilat ghoiri syar'ie
[ 2 ] Ikhtilat syar'ie
IKHTILAT GHOIRI SYAR'IE
1- Percampuran yang boleh menghilangkan maruah
2- Percampuran yang boleh menimbulkan fitnah
3- Bercanggah dengan adat dan adab etika Islam
4- Bukan berhajat. Yakni tidak mempunyai sebarang hajat.
5- Tidak ikut adab Islam. Tidak mengasingkan tempat lelaki/perempuan. Ikhtilat seperti ini hendaklah dicegah jika bertepatan dengan syarat. IKHTILAT SYAR'IE
1- Mempunyai hajat
· Tempat menuntut ilmu
· Medan jihad
· Gerakan dakwah. Amar makruf nahi mungkar
· Menziarah
· Menghadiri jemputan. Cth: Kenduri kahwin dlll
· Menunaikan haji dan Umrah
· Musafir syar'ie
· Muhasabah kepimpinan. Cth: Mesyuarat agung,pembentangan
· Menjadi saksi
· Menyaksikan hukuman. Cth: Menyaksikan hukuman hudud SYARAT2 IKHTILAT
1- Tidak bersentuhan
2- Menjaga aurat
3- Menjaga adab bercakap
4- Mengasingkan tempat ( Pada tempat2 tertentu )
5- Dibawah kawalan orang yang dipercayai dan siqah.
MENGAPA DITEGAH???
1- Islam sangat berhati-hati menjaga sifat semulajadi manusia.
2- سد الزرائع iaitu menutup segala lubang-lubang maksiat
3- Mengelakkan fitnah yang mana memberi kesan yang besar dalam kehidupan.
4- Perbuatan ini termasuk dalam muqaddimah zina.
5- Menonjolkan ciri2 kemanusiaan dan meninggikan darjat kemanusiaan atas segala darjat.
6- Menolak bentuk pergaulan diatas ciri2 kebinatangan dalam proses pembentukkan masyarakat.
7- Melahirkan keperibadian dan generasi manusia yang tinggi etika.
KESIMPULAN
Sesungguhnya masalah ikhtilat ini perlu diberi pencerahan dengan suluhan Al-Quran dan Sunnah. Pergaulan bebas tanpa kawalan dan terarah akan mengunndang bahana yang membengkak dalam masyarakat. Masyarakat kita sekarang 'tenat' dan semakin menjauh dari akhlak dan budaya ketimuran.
Kembali dan berubahlah kepada pengamalan dan penghayatan Islam.. Jangan terikut dek kejahilan moden...
"Dan jika engkau menuruti kebanyakkan orang yang ada di muka bumi,nescaya
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Tiadalah mereka sangka
semata2 hanyalah berdusta"
Permasalahan Ikhtilat
Ikhtilat pada prinsipnya dijelmakan dalam bentuk hubungan bebas antara lelaki dan perempuan yang ajnabi, ia boleh berlaku samada di tempat sunyi atau di tempat yang terbuka. Kesan dari perhubungan semacam ini membuka ruang kepada berlakunya perzinaan di dalam masyarakat.
Sabda rasulullah saw:
Maksudnya : Tiada akan menyendiri seorang lelaki dan seorang perempuan itu melainkan syaitan akan menjadi orang ketiganya. Hadis Riwayat Turmu
Syariat Islam mengharamkan kepada lelaki melihat kepada wanita lain yang bukan muhrim. Seorang lelaki tidak diperbolehkan memandang kepada orang perempuan selain kepada isterinya dan wanita-wanita muhrimnya.
Firman Allah :
قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم، ويحفظوا فروجهم… وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن، ويحفظن فروجهن… ( النور ؛ 31 )
Maksudnya : katakanlah kepada lelaki-lelaki dari orang-orang beriman supaya menahan penglihatan mereka serta menjaga kehormatan mereka…dan katakanlah kepada orang perempuan-perempuan dari orang-orang yang beriman supaya menahan penglihatan mereka serta menjaga kehormatan mereka. Surah An Nur : 31
Oleh kerana menahan pandangan mustahil dapat dilakukan dalam bentuk pergaulan yang bebas (bercampur lelaki dan perempuan) maka sayugialah Islam bertindak mengharamkannya, dan Islam menetapkan kepada yang ingin bermuamalat bahawa ia mestilah mengadakan sekatan yang menghalang penglihatan di antara keduanya.
Firman Allah :
واذا سألتموهن متاعا فاسألوهن من وراء حجاب (اللأحزاب
Maksudnya : " Apabila kamu minta dari perempuan akan sesuatu seperti alat-alat yang digunakan di dalam rumah, baldi atau pinggan atau belajar ilmu atau minta sesuatu fatwa maka hendaklah kamu minta itu dari balik tabir iaitu dari belakang tabir iaitu dari suatu sekatan di antara kamu dengan perempuan itu." Surah Al Ahzab :53
Selain itu, di sini juga suka untuk dinyatakan beberapa panduan interaksi antara lelaki dan perempuan iaitu 3 perkara pokok mesti sentiasa diikuti, iaitu
1) Niat
Mestilah diniatkan kerana Allah.
2) Matlamat
Melibatkan perkara yang perlu dan diharuskan di dalam Islam, contohnya perubatan, pembelajaran serta pengurusan yang bertepatan dengan syara'.
3) Cara / Method
Suara dan gerak geri mempunyai peranan utama di dalam interaksi, samada secara fizikal atau melalui alat-alat komunikasi. Matlamat tidak mengharuskan cara. Garis panduan asas mesti sentiasa diikuti, antaranya termasuklah:
i) menjaga pandangan
ii) memelihara aurat
iii) bersuara dengan intonasi yang formal atau yang sepatutnya
iv) mengawal gerak geri agar berpadanan dengan tujuan
v) bertutur dengan perkara yang perlu sahaja
Walapun telah jelas hukum serta garis panduan berkenaan ikhtilat namun di sana kita lihat masalah ikhtilat sentiasa berlaku. Siapakah yang harus kita persalahkan?
Dan, lebih menyedihkan lagi bilamana penyakit terbaru ini juga merebak di kalangan mahasiswa Islam di tanah air termasuk warga azhari/ah. Adalah menjadi tanggungjawab kepada semua untuk sama-sama memikirkan masalah ini dan berusaha mencari jalan keluar. Kemelut ini tidak boleh dibiarkan. Penyakit yang berjangkit kepada mahasiswa kita ini mesti diubati dan dipulihkan sebelum ia benar-benar menjadi barah yang tidak dapat dirawat lagi. Semua pihak dan segala bentuk jentera mesti digerakkan ke arah itu.
Komen aku:Artikel ni bukan hasil karya aku tp kwn aku bg..Artikel ni bleh bc dlm blog aku sama.Aku letak dlm forum ni ats sbb utk igtkan suma kwn2 aku...aku tju utk aku n suma kwn2 aku yg asyik dok bercouple.Hayati n renung dgn iman ok...Wassalam Very Happy
dari http://90born.forumotion.com/islamik-corner-f38/ikhtilatpergaulan-bebas-menurut-hukum-islam-t678.htm
_________________
Langganan:
Postingan (Atom)